Definisi Hipnosis
Kata Hipnosis (Hypnosis) pertama kali diperkenalkan oleh James Braid, seorang dokter ternama di Inggris yang hidup antara tahun 1795-1860. Sebelum masa James Braid, Hypnosis dikenal dengan nama Mesmerism/Magnetism.
Hipnosis berasal dari kata Hypnos yang merupakan nama dewa tidur orang Yunani. Namun perlu dipahami bahwa kondisi Hipnosis tidaklah sama dengan tidur. Orang yang sedang tidur tidak menyadari dan tidak bisa mendengar suara-suara disekitarnya. Sedangkan orang dalam kondisi Hipnosis, meskipun tubuhnya beristirahat (seperti tidur), ia masih bisa mendengar dengan jelas dan merespon informasi yang diterimanya.
Hipnosis merupakan satu keadaan setengah sadar yang jika dilihat penampakannya mirip dengan tidur, disebabkan oleh suatu sugesti relaksasi dan perhatian yang terkonsentrasi pada sebuah objek tunggal. Individu tersebut menjadi tersugesti dan responsif terhadap pengaruh orang yang menghipnosis dan dapat mengingat kembali kejadian-kejadian yang telah dilupakan serta dapat meredakan gejala psikologis. (WHO, 1994).
Martin Orne mendefinisikan Hipnosis sebagai keadaan atau kondisi dimana orang mampu merespon terhadap sugesti yang sesuai dengan mengalami perubahan persepsi daya ingat atau mood. Ciri penting dari Hipnosis adalah perubahan pengalaman subjektif. (Kaplan, Sadock, 2002).
Hipnosis juga didefinisikan sebagai suatu interaksi sosial seseorang yang disebut subjek, bertindak untuk mengalami pengalaman imajinatif yang melibatkan perubahan kognisi tindakan yang diasadari berdasarkan sugesti dari seseorang yang disebut Juru Hipnosis. (Kilhistrom, 1997).
Saat ini, definisi yang paling banyak digunakan dan diterima berbagai lembaga/asosiasi Hipnosis dan Hipnoterapi di dunia adalah definisi dari sisi fenomena yang dikeluarkan oleh U.S. Dept. Of Education, Human Services Division: “Hypnosis is the by-pass of the critical factor of the conscious mind followed by the establishment acceptable selective thinking” atau “Hipnosis adalah penembusan faktor kiritis pikiran sadar diikuti dengan di terimanya suatu pemikiran selektif (sugesti).” (Kahija YF., 2007).
Hipnosis kedokteran kini terbagi atas Hipnopromosi (meningkatkan kesehatan dengan Hipnosis bagi orang sehat), Hipnoprevensi (mencegah gangguan kesehatan dengan Hipnosis bagi orang sehat), Hipnoterapi (penyehatan dengan Hipnosis bagi orang sakit), serta masih ada Hipnosis untuk rehabilitasi bagi orang cacat.
Dipandang dari sisi keilmuan Hipnosis adalah ilmu yang mempelajari pengaruh sugesti dan imajinasi terhadap pikiran manusia.
Sejarah Hipnosis
Penggunaan Hipnosis sudah ada sebelum sejarah itu sendiri tercatat, sejak awal mula peradaban manusia. Tentu saja waktu itu Hipnosis belum dikenal dengan nama “Hipnosis”.
Hipnosis pada masa dulu dipraktekkan dalam ritual agama maupun ritual penyembuhan. Catatan sejarah tertua tentang Hipnosis yang diketahui saat ini berasal dari Ebers Papyrus yang menjelaskan teori dan praktek pengobatan bangsa Mesir Kuno pada tahun 1552 SM. Hipnosis telah dipraktekkan di tempat yang berbeda dengan berbagai istilah sejak dahulu. Sejarah Hipnosis modern dimulai pada abad ke 18. (Kroger, 2007).
Franz Anton Mesmer (1734-1815)
Mesmer dinobatkan sebagai bapak Hipnosisme modern. Dia seorang dokter dari Wina yang pertama kali mengembangkan metoda penyembuhan dengan Hipnosis secara ilmiah. Mesmer mengembangkan teori yang disebut dengan “teori animal magnetism” yaitu adanya pengaruh medan magnet bumi terhadap tubuh manusia.
Di dalam tubuh setiap manusia terdapat cairan universal yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan tubuh. Jika cairan dalam tubuh ini kurang banyak, tidak mengalir dengan lancar atau tersumbat, maka akan menyebabkan seseorang menjadi tidak sehat secara mental dan fisik. Timbulnya suatu penyakit dapat dikarenakan adanya ketidak seimbangan komposisi magnet pada tubuhnya.
Mesmer terus melakukan penyembuhan dan eksperimental nya terhadap pasien-pasiennya yaitu dengan merangsang tubuh pasien tersebut dengan cara menempelkan lempengan-lempengan magnet ke beberapa bagian tubuh yang dianggap membutuhkan kekuatan magnet, hingga seiring dengan perkembangan waktu, Mesmer melakukan penyembuhannya tanpa menempelkan lempengan magnetnya, melainkan melalui perantara tubuh Mesmer sendiri yang diyakini memiliki daya magnetis/kekuatan magnet. Sejak penyembuhan ala Mesmer inilah metode Hipnosis mulai diteliti dan menjadi bahan perdebatan dari berbagai ilmuwan barat. Inilah cikal bakal metode Hipnosis dijadikan sebagai sebuah keilmuan yang dapat dirasakan manfaatnya secara klinis hingga sekarang. (Kroger, 2007).
Marquis de Puysegur (1751-1825)
Seorang dokter dari Paris dan salah seorang dari murid Mesmer. Pertama kali memperlihatkan efek Sugesti Post Hypnotic dengan menggunakan Pohon Puysegur-nya yang terkenal, dimana orang yang memegang pohon tersebut akan menjadi histeris, lupa ingatan atau tangannya akan menempel di pohon dan tidak bisa dilepaskan, dia juga pertama kali menggunakan istilah somnambulisme untuk kondisi trance yang dalam, dan istilah tersebut masih dipakai hingga sekarang. (Kroger, 2007).
John Elliotson (1791-1868)
John Elliotson adalah seorang dokter dari Inggeris, juga menggunakan Hipnosis dalam prakteknya untuk menyembuhkan sakit gila, epilepsi, gagap, rematik, sakit kepala dan untuk operasi tanpa obat blus. (Kroger, 2007).
James Braid (1795-1860)
Seorang dokter bedah dari Inggris. Dalam bukunya Neuro Hypnotism untuk pertama kalinya James Braid memakai kata Hipnosis yang diambil dari bahasa Yunani Hypnos = Dewa Tidur, karena James Braid berpendapat bahwa kondisi dalam Hipnosis itu sama dengan tidur saraf. James Braid juga adalah orang yang pertama kali menggunakan teknik induksi dengan fiksasi mata dimana pasien diminta untuk melihat dan konsentrasi pada sebuah bandul yang diayunkan didepan pasien, pada waktu itu induksi dengan fiksasi mata masih membutuhkan waktu 1⁄2 jam dan bahkan lebih. (Kroger, 2007).
James Esdaile (1808-1859)
Seorang dokter bedah Irlandia yang bertugas di India dan merupakan dokter yang paling banyak melakukan bedah tanpa obat bius dalam sejarah Hipnosis, dengan menggunakan Hipnosis, Esdaile melakukan 1000 operasi tanpa obat bius, 300 diantaranya bedah mayor (membuka perut) dan 19 amputasi, sebelum izin prakteknya dicabut oleh “Medical Association of England”.
Pada saat itu chloroform dan obat bius lain masih belum ditemukan, sehingga tingkat kematian pasien dalam operasi sangat tinggi, yaitu hampir 50% dari pasien meninggal dalam operasi karena shock dan rasa takut, dan dengan Hipnosis dr. James Esdaile mampu menekan tingkat kematian pasien operasi hingga 5-7 % dan sebagai penghargaan atas jasanya, level trance yang paling dalam dimana bisa dilakukan operasi tanpa obat bius di sebut juga Esdaile State. (Kroger, 2007).
Pierre Janet (1859-1947)
Seorang Psikolog dan Psikoterapis dari Perancis. Menurut Janet, Hipnosis adalah sebuah proses disosiasi atau pemecahan/ pemisahan kesadaran dari pikiran dan perasaan. Sampai saat ini teknik pemecahan kesadaran dan pikiran tersebut masih tetap digunakan dalam Hipnoterapi, terutama untuk menangani kasus fobia & trauma. (Kroger, 2007).
Jean Martin Charcot (1825-1893)
Seorang dokter saraf di Paris mengemukakan teori bahwa Hipnosis adalah akibat kerentanan secara psikis, dan menurutnya perempuan itu lebih rentan terhadap Hipnosis dari pada pria. (Kroger, 2007).
Hippolyte Bernheim (1837-1919)
Seorang Profesor Ilmu penyakit dalam yang membantah teori Charcot bahwa Hipnosis itu terjadi karena kerentanan secara psikis dari seseorang. Menurutnya Hipnosis bisa terjadi karena tingkat sugestibilitas seseorang (suyet bisa terhipnosis karena bereaksi terhadap sugesti dari Juru Hipnosisnya). (Kroger, 2007).
Sigmund Freud (1856-1939)
Seorang dokter saraf dari Wina yang merupakan pelopor dari teori psikoanalisa yang masih dipakai saat ini. Belajar dari Charcot dan Bernheim, Freud mulai menggunakan Hipnosis dalam prakteknya meskipun tidak mengerti cara kerjanya secara mendalam. Tapi semenjak kejadian abreaksi dimana seorang pasien terbangun dan mencekiknya, Freud meninggalkan Hipnosis sebagai salah satu metoda psikoterapi. Akibatnya perkembangan Hipnosis mengalami kemunduran sejak saat itu. (Kroger, 2007).
Milton Erickson (1902-1984)
Seorang dokter dan psikiater dari Amerika dan merupakan pelopor Hipnoterapi Klinis Modern. Berbeda dengan pendapat pendahulunya, Milton Erickson menyatakan bahwa kemampuan di Hipnosis seseorang adalah sebuah keterampilan yang bisa dilatih, oleh karena itu semua orang bisa di Hipnosis. Faktor terpenting yang menentukan bisa tidaknya seseorang di Hipnosis bukanlah bakat Hipnosis atau tingkat sugestibilitas, akan tetapi kualitas hubungan dan tingkat kepercayaan yang timbul antara Juru Hipnosis dan sang pasien. Milton Erickson adalah orang pertama yang mengembang-kan teknik Hipnoterapi yang lebih permisif dengan menggunakan pola bahasa Hipnotic, analogi dan metafora. Dan teknik permisif ini disebut dengan “Ericksonian Hypnosis” dan terkadang disebut juga “Conversational Hypnosis” (Kroger, 2007).
Dave Elman (1900-1967)
Dia mengembangkan teknik menghipnosis cepat yang dikenal dengan Dave Elman Induction. Dengan teknik Induksi Elman ini, seorang bisa dibimbing untuk mencapai trance yang sangat dalam (somnambulisme) hanya dalam waktu kurang dari 4 menit, dan hal ini membuka pintu bagi aplikasi Hipnosis dalam dunia medis, terutama
mengatasi rasa nyeri pada pasien. Coma State adalah kondisi trance yang sangat dalam, dimana sudah terjadi anestesi secara alami sehingga Coma State banyak digunakan untuk menghilangkan rasa nyeri yang tidak spesifik Ontractable Pain) pada pasien kanker dan juga pada pembedahan tanpa obat bius, Sesudah Dave Elman, masih banyak lagi tokoh tokoh yang berperan dalam perkembangan Hipnosis aliran barat, beberapa diantaranya adalah Ormond McGill yang diberi julukan “The Dean of Modern Stage Hypnosis”, kemudian Richard Bandler dan John Grinder. (Kroger, 2007).
Richard Bandler dan John Grinder (1970)
Pada tahun 1970-an, muncul sebuah lonjakan besar di area pengembangan diri. Richard Bandler, seorang ahli komputer, dan John Grinder, profesor bahasa, bekerjasama mempelajari dan mengembangkan metode-metode yang terdapat dibalik aksi Hipnosisme dan terapi Erickson. Berkat kerja keras mereka, lahirkan gerakan terapi baru bernama Neuro-Linguistic Programming (NLP).
NLP memanfaatkan prinsip waking hypnosis untuk menciptakan efek tranformasi dalam waktu yang sangat cepat dibandingkan Hipnosis modern, apalagi Hipnosis klasik.
Seperti halnya dengan Hipnosis, sekarang NLP juga dipakai untuk motivasi, pengembangan diri, bisnis, olah raga, pendidikan dll. (Kroger, 2007).
NLP diambil dari kata Neuro yang mengacu pada otak, dan Linguistic yang mengacu bahasa, Programming artinya pemasangan sebuah rencana atau prosedur.
NLP adalah studi tentang bagaimana bahasa, baik lisan maupun non lisan, mempengaruhi sistem saraf kita. Kemampuan kita untuk melakukan apapun dalam kehidupan ini adalah didasarkan kepada kemampuan untuk mengarahkan sistem saraf kita sendiri. Mereka yang mampu menghasilkan hasil luar biasa melakukannya dengan menghasilkan komunikasi yang spesifik kepada dan lewat sistim sarafnya.
NLP mempelajari bagaimana orang berkomunikasi dengan diri sendiri dengan cara-cara yang menghasilkan kondisi-kondisi banyak akal yang optimal dan oleh karenanya menciptakan jumlah pilihan perilaku terbanyak. (Ellias., 2009).
Setelah mengalami berbagai pasang surut dan penolakan selama berabad-abad lamanya oleh kalangan ilmuwan dan kedokteran, akhirnya Hipnosis diakui sebagai salah satu alat terapeutik yang sah oleh BMA (British Medical Association) pada tahun 1955, oleh AMA (American Medical Association) pada tahun 1958, oleh APA (American Psychological Association) pada tahun 1960 dan sampai sekarang profesi sebagai seorang Hipnoterapis diluar negeri diakui sebagai sebuah profesi sah menurut undang undang. (Elias., 2009).
Konsep Dasar Hipnosis
Pikiran bawah sadar manusia menyimpan misteri yang luar biasa. Banyak hal yang menyangkut manusia bersumber dari berbagai data dan nilai yang tersimpan di pikiran bawah sadar. Pikiran bawah sadar tidak saja terkait dengan perilaku dan mental, tetapi lebih jauh lagi pikiran bawah sadar dapat merubah metabolisme, memper- cepat penyembuhan, atau bahkan memperburuk suatu kondisi penyakit.
(Rusli SI, Wijaya SA., 2009).
Subconcious Programming.
Pada Hipnosis dikenal istilah Subconcious Programming dimana rangsang yang diterima seseorang melalui panca indra (visual, auditorik, kinesetik, gustatorik dan olfaktorik) akan mempengaruhi belief system maupun self image yang ditentukan oleh kira-kira 12 % produk concious dan 88 % subconscious. Dengan dasar inilah konsep Hipnosis bekerja untuk memberikan nilai-nilai baru pada seseorang yang akhirnya akan berdampak pada perubahan pola pikir maupun tindakan seseorang yang telah menjalani proses Hipnosis (Rusli., 2009)
Proses Hipnosis.
Adalah proses untuk merubah kondisi normal state ke kondisi Hipnotic state. Hipnotic State adalah suatu kondisi dimana seseorang cenderung lebih sugestif sehingga dapat menerima saran- saran yang dapat berubah menjadi nilai-nilai baru.
Dengan mengistirahatkan pikiran sadar (conscious mind) melalui Hipnosis, seseorang dapat diberikan memori, saran, atau sugesti yang dapat memprogram ulang pikiran bawah sadarnya untuk berbagai tujuan positif.
Hipnotic State bervariasi untuk setiap situasi dan kondisi dari mulai tingkatan sugestif ringan sampai dengan sugestif ekstrim.
Proses Hipnosis dilakukan dengan cara merubah konsentrasi dari fokus eksternal ke fokus internal yang dapat dilakukan sendiri (Self Hypnosis) atau dengan bantuan orang lain. Mereka yang memiliki kondisi kejiwaan yang relatif tenang atau terbiasa berkonsentrasi ke internal (meditasi, doa, dsb) cenderung untuk lebih mudah memasuki Hipnotic State.
Termination adalah suatu tahapan untuk mengakhiri proses Hipnosis dengan konsep dasar memberikan sugesti agar subjek tidak mengalami kejutan psikologis ketika terbangun dari tidur Hipnosis, biasanya dengan membangun sugesti yang positif yang akan membuat tubuh subjek lebih segar dan rileks kemudian diikuti beberapa regresi selama beberapa detik untuk membawa subjek ke keadaan normal kembali.
Saat proses Hipnosis yang terjadi adalah pengaktifkan sistem saraf parasimpatik sehingga subjek menjadi sangat rileks dan nyaman. Hal ini sangat bermanfaat dalam melakukan terapi karena subjek akan tetap rileks, meskipun fobia atau trauma sedang ditangani.
Terdapat dua sistem saraf, yaitu sistem saraf otonom dan sistem saraf pusat. Sistem saraf otonom mengatur sistem internal, yang Blasanya merupakan gerak yang di luar kendali pikiran sadar. Yang termasuk dalam kendali sistem saraf otonom, antara lain adalah detak jantung, sistem pencernaan, dan aktivitas kelenjar. Sistem saraf pusat mengatur respons motorik hingga impresi sensori melalui otak dan saraf pada tulang belakang.
Sistem saraf otonom terbagi menjadi dua bagian, yang cara kerjanya saling bertolak belakang.
Sistem saraf simpatik, yang bertanggung jawab terhadap mobilisasi energi tubuh untuk kebutuhan yang bersifat darurat. misalnya, jantung berdetak lebih cepat dan lebih kuat, tekanan darah meningkat, atau pernapasan menjadi lebih cepat. Saat mengalami ketakutan secara fisik yang terjadi adalah: lutut dan tangan gemetar, telapak tangan dan wajah berkeringat, jantung berdebar lebih kencang dan keras, tarikan napas lebih cepat, dan perut terasa tidak enak atau mungkin mual. Semua itu disebabkan karena sistem saraf simpatik sedang in-action sebagai respons dari perasaan takut dan tegang.
Sistem saraf parasimpatik mengakibatkan detak jantung melambat, tekanan darah turun, dan respons insting dari kondisi istirahat dan relaksasi. Respons parasimpatik mengakibatkan seseorang menjadi lebih tenang dan nyaman. Semua itu bertujuan untuk menghemat energi tubuh.
Kedua sistem saraf, simpatik dan parasimpatik, tidak bisa aktif bersamaan.
Tanda-tanda kondisi Hipnosis atau saat seseorang menggunakan sistem parasimpatik adalah :
- Bernafas dengan diafragma (pernafasan perut).
- Relaksasi seluruh badan yang sempurna.
- Suhu badan meningkat (lebih hangat)
- Produksi air mata meningkat sehingga merembes/ mengalir keluar dan mata kemerahan.
- Bola mata mengarah ke atas, atau
- Gerakan bola mata ke kanan dan kiri atau ke atas dan bawah secara konstan, atau
- Terjadi REM (Rapid Eye Movement) yaitu mata berkedip-kedip dengan cepat saat seseorang baru memasuki kondisi Hipnosis atau ketika bermimpi dalam tidur.
Miskonsepsi dan fakta hipnosis
Apakah Hipnosis Bisa Digunakan Untuk Menguasai Orang Lain? Hipnosis tidak bisa terjadi karena paksaan. Seseorang hanya bisa terhipnosis apabila dia mau mengikuti perintah sang ahli Hipnosis. Jika Anda memperhatikan pertunjukkan Hipnosis di Televisi, subjek (orang yang di Hipnosis) adalah orang yang bersedia di Hipnosis dan bersedia tampil dalam acara Televisi. Mereka tahu kalau akan di Hipnosis dan tahu dirinya sedang disorot kamera. Dari awal mereka sudah bersedia mengikuti perintah sang ahli Hipnosis. Mereka pun sudah tahu bahwa mungkin mereka akan “dipermainkan” apabila mereka mau di Hipnosis. Namun karena mereka ingin masuk Televisi atau karena ingin mencoba rasanya di Hipnosis atau karena motivasi lainnya (misalnya imbalan uang), uang), maka mereka bersedia “dipermainkan” dalam kondisi Hipnosis.
Meskipun Anda berada dalam kondisi Hipnosis, bukan berarti Anda akan melaksanakan semua perintah penghipnotis. Pikiran bawah sadar tetap melindungi Anda dari sugesti yang merugikan dan melanggar keyakinan yang Anda anut. Misalnya, penghipnotis memerintahkan Anda untuk memotong jari Anda sendiri atau meludahi kitab suci agama Anda, maka Anda pasti menolak, bahkan Anda langsung terbangun dari Hipnosis. Jika saya menghipnosis Anda, bukan berarti saya menguasai pikiran Anda. Memang benar sugesti akan sangat kuat pengaruhnya pada pikiran Anda, Tetapi hanya sugesti yang tidak merugikan dan tidak melanggar keyakinan Anda.
Apakah Hipnosis Menggunakan Kekuatan Supranatural? Higinosis adalah ilmu pengetahuan ilmiah walaupun terlihat yang belum mengenalnya. Seorang ahli Hipnosis kekuatan supranatural, gaib, mistik, atau bantuan halus. Hipnosis menggunakan sugesti atau pengaruh kata- kata yang disampaikan dengan teknik teknik tertentu. Satu-satunya kuatan dalam Hipnosis adalah komunikasi. Saya hanya bisa menghipnosis Anda jika Anda memahami bahasa yang saya gunakan. Saya tidak bisa menghipnosis orang yang hanya paham Bahasa Inggris dengan Bahasa Indonesia.
Siapa Yang Bisa Di Hipnosis?
Banyak orang menganggap bahwa orang yang bisa di Hipnosis adalah orang yang bodoh atau lemah pikirannya. Ini adalah anggapan yang salah. Faktanya, seseorang hanya bisa di Hipnosis apabila orang tersebut cukup cerdas, mampu berkonsentrasi dan bisa berimajinasi. Hipnosis tidak bisa diterapkan kepada orang gila, idiot, orang tuli, atau anak kecil yang belum bisa berkomunikasi dua arah. Semakin cerdas seseorang semakin mudah di Hipnosis. Jadi, jangan gembira kalau Anda merasa tidak akan bisa di Hipnosis.
Apa Efek Samping Hipnosis?
Hipnosis sangat aman apabila dilakukan oleh orang yang kompeten bidang ini. Sama sekali tidak ada efek samping yang merugikan apabila Hipnosis dilakukan oleh orang yang sudah terlatih dengan baik. Mungkin Anda takut tidak bisa bangun dari Hipnosis atau takut akan kehilangan ingatan Anda setelah bangun dari kondisi Hipnosis. Namun faktanya, tidak pernah ada orang yang tidak bisa bangun dari Hipnosis atau menjadi lupa ingatan karena Hipnosis. Sebaliknya, Hipnosis memberi efek samping positif yaitu meningkatnya konsentrasi orang yang di Hipnosis.
Kondisi Hipnosis
Bagaimana rasanya dalam kondisi Hipnosis? Banyak orang yang belum tahu Hipnosis, menganggap bahwa kondisi Hipnosis itu sama dengan tidur atau pingsan. Sebenarnya, kondisi Hipnosis adalah kondisi relaksasi pikiran yang biasanya disertai relaksasi tubuh seperti ketika Anda merilekskan tubuh Anda menuju tidur di malam
Dalam kondisi Hipnosis seseorang merasa tetap sadar. Bahkan tidak Jarang orang merasa sadar tapi sebenarnya terhipnosis. Setiap orang bisa saja merasakan sensasi kondisi Hipnosis yang berbeda-beda, tapi pada umumnya ketika seseorang dalam kondisi Hipnosis, dia hanya akan merasakan relaksasi pikiran dan tubuh, serta tetap bisa mendengar semuanya dengan jelas.
Istilah penting dalam dunia hipnosis
Hypnosis/Hypnotism atau dalam bahasa Indonesia Hipnotis/ Hipnosis/Hipnosisme adalah kata yang artinya sama.
Hypnotist adalah orang yang melakukan Hipnosis atau “Juru Hipnosis”.
Street Hypnosis adalah permainan Hipnosis yang dilakukan di jalanan atau di tempat umum.
Stage Hypnosis adalah pertunjukan Hipnosis di atas panggung. Subjek/Suyet adalah orang yang di Hipnosis
Sugesti adalah perintah atau saran yang diberikan hypnotist kepada subjek.
Trance adalah Kondisi Hipnosis atau keadaan dimana filter mental sedang tidak aktif.
Tingkat Sugestibilitas
Apakah semua orang bisa di Hipnosis?
One hundred percent of normal people are hypnotizable. It does not follow that one hundred percent are hypnotizable by any one Individual at any given time. Practically all normal people can be hypnotized, though not necessarily by the same person, and practically all people can learn to be hypnotists.
Milton Erickson, M.D.
Menurut tokoh Hipnosis Milton Erickson, ternyata semua orang bisa di Hipnosis, asalkan kita bisa membuat pikiran subjek berada pada kondisi sugestibilitas tinggi.
Apa itu sugestibilitas ?
Sugestibilitas adalah kerentanan seseorang untuk menerima sugesti. Semakin tinggi sugestibilitas seseorang, maka semakin mudah orang tersebut di Hipnosis.
Sebagian praktisi Hipnosis meyakini sebuah teori kuno bahwa orang yang sugestibilitasnya tinggi hanya berjumlah 10% dari keseluruhan
pulasi manusia. Sebagian praktisi Hipnosis juga ada yang meyakini bahwa tingkat sugestibilitas pada seseorang itu statis (tidak akan berubah). Namun dari banyak penelitian membuktikan bahwa Jumlah orang yang tingkat sugestibilitasnya tinggi tidak bisa ditentukan secara pasti karena sugestibilitas ternyata bukanlah hal yang statis. Tingkat sugestibilitas bisa turun atau naik tergantung beberapa faktor berikut :
A. Faktor Dari Subjek
- Kemauan Untuk Mengikuti Perintah.
Ini berkaitan erat dengan prinsip bahwa Hipnosis tidak bisa dipaksakan. Sugestibilitas subjek akan menjadi tinggi ketika subjek dengan senang hati bersedia mengikuti perintah. - Kemantapan Subjek Terhadap Hypnotist.
Semakin tinggi tingkat kemantapan subjek terhadap penghipnotis, semaki mudah penghipnotis menghipno-sisnya. Sebaliknya, apabila subjek merasa ragu dengan kemampuan penghipnotis, maka tingkat sugestibilitas-nya jadi rendah. - Rasa Aman dan Nyaman.
Semakin subjek merasa aman dengan Hipnosis dan merasa nyaman penghipnosisnya, maka tingkat sugestibilitasnya semakin tinggi. Hambatan terbesar dalam Hipnosis adalah rasa takut dari subjek. Ketika seseorang takut terhadap penghipnotis, maka saat itu juga tingkat sugestibilitasnya sangat rendah.
B. Faktor dari Anda Sebagai Hipnotist
- Kemantapan Anda dalam mempraktekkan Hipnosis.
Ketika Anda mantap, maka subjek pun menjadi lebih mantap terhadap Anda. Getaran suara Anda yang mantap bisa “menaklukkan” bawah sadar subjek. - Sikap ramah Anda ketika mempraktekkan Hipnosis.
Ingat, Hipnosis akan sulit dilakukan apabila subjek takut kepada Anda. Untuk itu, bersikap baik adalah wajib.
KESIMPULAN: Sebenarnya semua orang bisa di Hipnosis dengan mudah dan cepat, asalkan kita bisa membuatnya mau mengikuti perintah Anda dengan senang hati, membuatnya mantap percaya kepada Anda dan membuatnya merasa aman. Orang yang awalnya tingkat sugestibilitasnya rendah bisa menjadi sugestibilitas tinggi apabila kita bisa membuatnya percaya/mantap.
Hypnotic trance level / tingkat kedalaman
Kondisi Hipnosis
Ibarat pikiran adalah sebuah gua harta karun, maka semakin dalam kita masuk ke dalam gua, semakin banyak pula harta yang bisa kita ambil. Begitu pula dalam Hipnosis, semakin dalam tingkat kedalaman Hipnosis, semakin banyak pula manfaat yang bisa Anda peroleh dari Hipnosis.
Semakin dalam subjek masuk ke kondisi Hipnosis artinya : Subjek semakin suggestible, maksudnya subjek semakin mudah menerima sugesti.
Sugesti yang diucapkan semakin kuat pengaruhnya bagi pikiran subjek.
Semakin banyak fenomena Hipnosis yang bisa dimunculkan dari subjek.
Yang dimaksud dengan fenomena Hipnosis adalah gejala-gejala yang bisa dimunculkan oleh subjek dalam kondisi Hipnosis. Kemampuan setiap orang untuk memunculkan fenomena Hipnosis (dengan sengaja) berbeda-beda.
Secara Sederhana, Kondisi Hipnosis bisa dibagi menjadi 3 tingkat:
- Light Trance / Trance Ringan, ditandai dengan :
Relaxation / Relaksasi.
Catalepsy of eyes / Mata tidak bisa dibuka (terasa lengket/berat).
Limb catalepsy / Tangan terasa berat. - Medium Trance / Trance Menengah, ditandai dengan:
Glove Anesthesia / Mati rasa sebagian
Partial Amnesia / Kelupaan sebagian Simple Post Hypnotic Suggestions/Sugesti Pasca Hipnosis Sederhana - Deep Trance / Somnambulism, ditandai dengan:
Complete amnesia / Kelupaan sempurna.
Complete anesthesia / Mati rasa sempurna
Posthypnotic anesthesia / Efek mati rasa setelah di Hipnosis Hypermnesia / Mampu mengingat detail kejadian yang sudah dilupakan secara sadar.
Ability to open eyes without affecting trance / Tetap trance meskipun mata terbuka
Bizarre posthypnotic suggestions / Menerima sugesti pasca Hipnosis yang aneh-aneh.
posthypnotic amnesia / Kelupaan pasca Hipnosis
Systematized yang bisa diatur
Positive hallucinations / Melihat, mendengar, atau merasakan sesuatu yang tidak ada.
Negative hallucinations / Tidak melihat sesuatu yang sebenarnya ada.
Orang dalam kondisi Hipnosis, semakin dalam dia masuk, dia menjadi semakin “penurut” terhadap perintah Anda. Semakin dalam dia masuk, semakin banyak fenomena aneh yang bisa diperintahkan kepada orang tersebut.
